Rukun Iman yang pertama iman kepada Allah SWT
Rukun Iman Pertama: Iman Kepada Allah SWT
Di Saung Ngaji kita akan bersama-sama menyelami akar keimanan kita — yakni iman kepada Allah SWT — dengan penuh keikhlasan dan kesederhanaan.
Apa Itu Iman Kepada Allah SWT?
Iman kepada Allah SWT adalah keyakinan yang teguh di dalam hati bahwa Allah Azza wa Jalla itu ada, Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan hanya Dia yang berhak disembah. Dalam bahasa Arab disebut الإيمان بالله (al-Īmān billāh).
Artinya: kita tidak hanya “percaya saja”, tetapi yakin, mengakui, dan menunjukkan lewat lisan maupun perbuatan bahwa Allah-lah Rabb kita, Allah-lah yang mengatur alam semesta, dan kita tunduk kepada-Nya. Maka iman kepada Allah itu menjadi pondasi dari seluruh agama kita.
Dalil dari Al-Qur’an dan Hadits
Dalil Al-Qur’an
Berikut salah satu ayat yang sangat jelas membahas tentang iman:
قُولُوا آمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا …
Qûlû âmannâ billâhi wa mâ unzilla ilainâ … (QS. QS. Al‑Baqarah: 136) 2Terjemahan: “Katakanlah (hai orang-orang yang beriman), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami …’”
Ayat ini mengandung instruksi jelas untuk mengucapkan “kami beriman kepada Allah”, dan bahwa iman kepada Allah menjadi titik awal keimanan kita. 3
Dalil Hadits
Salah satu hadits yang menyentuh akar iman ialah:
عَنْ أَبِي عَمْرٍو … قُلْتُ يَا رَسُولَ اللّٰهِ خُذْ لِي قَوْلًا لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ، قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِاللّٰهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ» (رَوَاهُ مُسْلِمٌ) 4
Latin: “Qul āmantu billāhi ṯumma istaqim.”
Terjemahan: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’ kemudian istiqamahlah.”
Hadits ini sangat pendek namun kaya makna: pertama-tama ucapkan “Aku beriman kepada Allah”, lalu jalankan dengan istiqamah. Untuk kita di Saung Ngaji, ini menjadi motivasi bahwa keimanan bukan sekadar ucapan, tetapi gaya hidup. 5
Hadits juga menjelaskan bahwa keimanan itu mencakup hati, ucapan, dan perbuatan:
عَنِ ابْنِ حَجَرٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الإِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالأَعْرَاكِ» (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالطَّبَرَانِي) 6
Latin: “Al-Īmānu ma‘rifatun bil-qalbi wa qawlun bil-lisāni wa ‘amalun bil-a‘rāki.”
Terjemahan: “Iman ialah pengetahuan di hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”
Apa Saja yang Dimaksud dengan Iman Kepada Allah?
Dalam pemahaman aqidah, iman kepada Allah mencakup beberapa aspek yang saling terkait:
- Iman akan wujud Allah – Yakin bahwa Allah Azza wa Jalla benar-benar ada, tidak diciptakan dan tidak berawal. Sebab jika Dia memiliki awal, maka akan ada yang mendahului-Nya. (Dalil aqli juga memberi bukti: adanya alam semesta menunjukkan penciptaannya.) 7
- Iman kepada ke-Esa-an Allah (Tauhid)
- Tauhid Rububiyyah: Allah adalah Pencipta, Pengatur, Pemelihara segala makhluk.
- Tauhid Uluhiyyah: Hanya Allah yang berhak disembah, semua ibadah hanya untuk-Nya.
- Tauhid Asma’ wa Sifat: Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa menyerupai makhluk, tanpa disamai dan tanpa ditolak. 8
- Iman kepada nama dan sifat Allah – Mengetahui bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifat baik yang cocok dengan kebesaran-Nya (contoh: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Khaliq, Al-‘Alim). Mengakui tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk ataupun meniadakan sifat-Nya.
- Iman terhadap kehendak dan takdir Allah – Yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya (Qadar). Ini juga terkait dengan rukun iman lainnya, namun semua bermula dari iman kepada Allah. 9
Manfaat Iman Kepada Allah Dalam Kehidupan Sehari-hari
Kita ingin agar iman kepada Allah tidak sekadar konsep, melainkan nyata dalam kehidupan. Berikut manfaat nyata yang bisa kita rasakan:
- Keamanan dan ketenangan jiwa. Saat kita yakin bahwa Allah yang mengatur segalanya, maka hati menjadi tenteram – tak gampang gelisah menghadapi ujian.
- Menjadi pedoman hidup. Iman kepada Allah menjadikan kita punya orientasi: “Apa yang Allah sukai, itulah yang saya kejar; apa yang Allah larang, itulah yang saya hindari.”
- Meningkatkan ibadah dan menjauhi syirik. Karena kita tahu bahwa hanya Allah yang layak disembah, maka kita pun menjaga diri dari menyekutukan-Nya dan beribadah dengan ikhlas.
- Mendorong kesungguhan dan istiqamah. Seperti hadits yang menyebut: ucapkan “Aku beriman kepada Allah”, lalu istiqamahlah. Maka keberlanjutan dalam kebaikan jadi ukuran keimanan kita.
- Memacu etos dakwah dan kebaikan. Bila kita sadar bahwa kita beriman kepada Allah, maka kita turut menegakkan kebenaran, menasihati, menjaga tetangga, dan berbuat baik karena kita beribadah kepada-Nya.
Cara Menghidupkan Iman Kepada Allah SWT
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan di lingkungan Saung Ngaji maupun pribadi demi menjadikan iman kepada Allah hidup dan nyata:
- Membiasakan dzikrullah dan mengingat Allah tiap hari. Buatlah waktu khusus pagi atau malam untuk bermunajat, membaca tasbih, tahmid, takbir, dan istighfar — agar hati selalu diarahkan kepada-Nya.
- Memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Pelajari satu-persatu dari Asmaul Husna, pahami makna-nya, dan aplikasikan dalam hidup: misalnya, bila Allah Ar-Rahman (Maha Pengasih) maka kita pun meneladani kasih sayang-Nya terhadap sesama manusia.
- Melakukan amal ibadah dengan ikhlas untuk Allah semata. Saat menunaikan shalat, puasa, sedekah, usahakan niat hanya karena Allah, bukan demi pujian manusia. Karena uluhiyah Allah adalah hak-Nya yang paling utama.
- Menjauhi dan memperbaiki diri dari syirik kecil maupun besar. Seringkali syirik muncul secara halus — seperti berharap pujian manusia, atau bergantung pada selain Allah dalam urusan hidup. Sadari, luruskan niat kita kembali kepada Allah.
- Istiqamah dalam kebaikan dan tetap konsisten. Iman bukan sekali-dua saja, tapi terus-menerus berjalan. Bila hari ini baik, usahakan esoknya lebih baik. Bila khilaf, segera bertaubat dan bangkit kembali.
Tantangan dan Rintangan dalam Mengokohkan Iman
Di zaman sekarang, banyak tantangan yang bisa melemahkan iman kepada Allah. Berikut beberapa di antaranya dan bagaimana kita menghadapinya di Saung Ngaji:
- Godaan materi dan duniawi. Ketika harta, status, atau teknologi menjadi pusat perhatian, kadang membuat kita lupa bahwa Allah-lah Pemilik segala. Solusinya: jadikan Allah sebagai prioritas, bukan harta.
- Informasi dan budaya yang mengaburkan ke-Tuhan-an. Banyak konten yang menjauhkan manusia dari sadar akan Allah. Maka di Saung Ngaji kita harus memilih lingkungan yang membangkitkan iman, bukan menjatuhkannya.
- Syirik laten atau tidak disadari. Seperti berharap pujian manusia, menyandarkan harapan hanya pada manusia atau teknologi. Ingat selalu bahwa hanya Allah yang memberikan kekuatan dan hasil.
- Konsistensi dalam amal ibadah. Kadang semangat awal tinggi, kemudian menurun. Untuk itu kita butuh sistem, teman yang saling mengingatkan, lingkungan positif — Saung Ngaji bisa menjadi support-system itu.
Kesimpulan
Saudaraku di Saung Ngaji, iman kepada Allah SWT bukan sekadar kalimat yang diucapkan sekali dua kali, tetapi sebuah kehidupan — dari hati yang yakin, lisan yang mengakui, hingga anggota badan yang beramal. Ketika kita meletakkan iman kepada Allah sebagai pondasi utama, maka seluruh rukun iman lainnya akan tumbuh dengan lebih kokoh.
Mari kita mulai dari diri sendiri: “Ya Allah, aku beriman kepada-Mu, jadikanlah keimanan ini hidup dalam diriku, melalui lisanku, hatiku, dan seluruh anggota badanku.” Selamat menghidupkan iman di Saung Ngaji, semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang benar-benar beriman.

Posting Komentar untuk "Rukun Iman yang pertama iman kepada Allah SWT "